Kabut abu-abu hitam bertengger di gunung merapi, kampungku
Seketika diarak angin, rintik gerimis menuruni lembah meleleh ke dasar
padang, rantauku
Tiada celah mentari september
Kaki gunung mengimbangi kabut, ketika ia terlelap di pelukannya
Berkali kuintip siapa aktornya melalui celah bilik, kamarku
Berbulan,
saatnya akan dimulai
Rinai awal datang saat siang masih berjalan, di gubuk tua ini
Ku tangisi gelap, yang pasti akan tiba
Membuatku bekerja keras untuk menguntai kenangan itu dalam tiap-tiap kata
Kan ku untai dalam sebuah tulisan
Ku ingin semua menghargai, setidaknya nanti setelah aku berangkat pergi
Ku ingin mereka tahu siapa sebenarnya yang zalim itu,
pecundang, pencurang, pengemis
dan ku ingin mereka tahu siapa sebenarnya yang adil
yang bijaksana, dan yang terluka itu
Sabu Andaleh, 19 Sep’ 2010
Tidak ada komentar:
Posting Komentar