Oleh; Eka Susanti
Berbagai ragam krisis akhlak dan moral kini terus menular, merebak dan
mewabah dalam masyarakat, khususnya di kalangan remaja. Ada sebuah pepatah
mengatakan bahwa: Pemuda sekarang adalah remaja besok, tegaknya
negara kita karena kita sendiri sebaliknya, runtuhnya negara kita juga
disebabkan oleh kita sendiri. Banyak remaja saat ini sering melakukan hal-hal
yang tidak baik, hal itu disebabkan oleh pergaulan bebas. Banyak remaja yang
salah bergaul hingga akhir-akhir ini sering ditemukan remaja yang berlaku tidak
sopan terhadap orang tua, tidak sopan kepada guru, bahkan remaja yang sering
melakukan penyimpangan seperti mencuri, memperkosa, bahkan membunuh. Sungguh tragis
akhlak remaja saat ini mereka bersikap jauh dari apa yang diajarkan. Remaja
sekarang cenderung lebih memgutamakan emosi dari pada akal sehatnya, mereka
selalu menghalalkan segala cara untuk mendapatkan sesuatu sekalipun hal itu
dapat merugikan orang lain.
Dunia pendidikan akhir-akhir ini
digoncangkan oleh fenomena kurang menggembirakan, hal itu terlihat dari
banyaknya terjadi tawuran pelajar, pergaulan asusila dikalangan pelajar dan
mahasiswa, kecabulan pornografi tidak terbendung. Kalangan remaja diselimuti
kebiasaan bolos sekolah, minuman keras, kecanduan ectasy, budak kokain dan
morfin, kesukaan judi dalam budaya yang populer, dan sejenisnya. Para remaja
cenderung bergerak menjadi generasi buih terhempas dipantai dan tidak berani
ikut serta didalam perlombaan ombak gelombang samudera globalisasi. Pada
hakekatnya semua perilaku amoral tersebut lahir karena lepas kendali dari nilai-nilai
agama dan menyimpang jauh terbawa arus deras keluar dari alur budaya luhur
bangsa. Kondisi seperti itu telah memberikan penilaian buruk terhadap dunia
pendidikan pada umumnya.
Remaja akan menjadi aktor utama
dalam pentas dunia karena itu generasi muda/ remaja harus dibina dengan budaya
yang kuat berintikan nilai-nilai
dinamik yang relevan
dengan realiti kemajuan di era globalisasi. Budaya adalah wahana kebangkitan
bangsa. Maju mundurnya suatu bangsa ditentukan oleh kekuatan budayanya.
Keutuhan budaya bertumpu kepada individu dan himpunan institusi masyarakat yang
memiliki kapasitas berkemampuan dalam mempersatukan seluruh potensi yang ada.
Perkembangan kedepan banyak ditentukan oleh peranan remaja sebagai generasi
penerus dan pewaris dengan kepemilikan ruang interaksi yang jelas menjadi
agen sosialisasi guna menggerakkan kelanjutan survival kehidupan kedepan.
Kecemasan atas penyimpangan perilaku
kemunduran moral dan akhlak, kehilangan kendali para remaja, sepatutnya menjadi
kerisauan semua pihak. Ketahanan bangsa akan lenyap dengan lemahnya remaja.
Kenakalan remaja lebih banyak disebabkan rusaknya sistim, pola dan politik
pendidikan. Kerusakan diperparah oleh hilangnya tokoh panutan, berkembangnya
kejahatan orang tua, luputnya tanggung jawab institusi lingkungan masyarakat,
impotensi dikalangan pemangku adat, hilangnya wibawa ulama, bergesernya fungsi
lembaga pendidikan menjadi lembaga bisnis, dan profesi guru dilecehkan.
Media massa merupakan satu mekanisme yang mempunyai pengaruh yang amat
besar dan berkesan di dalam pembentukan keperibadian manusia. Ia merupakan agen
sosialisasi dan memainkan peranan penting di dalam menetapkan akhlak di dalam
masyarakat. Media massa mampu mencorakkan hati budi yang beroperasi selama 24
jam. Media massa hendaklah mempunyai asas falsafah dan dasar-dasar komunikasi
yang selaras dengan nilai-nilai akhlak keagamaan. Para petugas media massa
hendaklah meningkatkan rasa tanggung jawab dan kewajiban mereka untuk memihak
dan menegakkan nilai-nilai luhur seperti kebenaran, kejujuran dan sebagainya.
Gagasan dan tugas untuk membangun, memupuk dan meningkatkan mutu akhlak
umat khasnya di kalangan remaja adalah suatu tanggung jawab besar. Ia tidak
dapat dilakukan dengan jayanya kecuali oleh manusia yang berjiwa besar dan
mempunyai kualitas kemanusian yang tinggi. Ia harus bermula dengan melahirkan
para pemimpin umat yang berakhlak, beriman dan bertakwa. Pemimpin yang
mempunyai nilai akhlak Islam, mempunyai kerohanian yang amat tinggi, mewarisi
ciri perjuangan Rasulullah yang diutus untuk membangun akhlak dan keluhuran
umat manusia. Lantas memastikan semua umat menunaikan solat, mengeluarkan
zakat, menyuruh yang makruf, mencegah yang mungkar, menghalalkan apa yang
dihalalkan oleh Allah, mengharamkan apa yang diharamkan oleh Allah. Mereka
melaksanakan undang-undang Allah yang sebenarnya memang melindungi nilai dan
norma akhlak dalam masyarakat.
Menanamkan kesadaran tanggung
jawab terhadap hak dan kewajiban asasi individu secara amanah, pendidikan
akhlak, istiqamah pada agama yang dianaut, teguh politik, melazimkan musyawarah
dengan disiplin dan bijak memilih prioritas pada yang hak sebagai nilai puncak
budaya Islam yang benar. Sesuatu akan selalu indah selama benar.
Ketahanan umat bangsa terletak pada kekuatan ruhaniyah keyakinan agama dengan
iman dan taqwa. Pendidikan akhlak tidak hanya melalui
penjelasan mengenai nilai-nilai akhlak kepada masyarakat di mana mereka boleh
memilih dan menghargai nilai-nilai tersebut tetapi juga pendidikan akhlak boleh
dibuat berdasarkan perlaksanaan atau penghayatan. Walaupun di peringkat awal ia
dilaksanakan kerana arahan atau tekanan dari luar, namun lama kelamaan ia akan
menjadi kebiasaan dan tabiat.
Persmasalahan sosial dan budaya sering mempengaruhi manusia. Hal tersebut
merangkum tradisi, model tingkah laku dan saranan serta rangsangan yang
bersifat akhlak. Manusia memang sering terpengaruh dari lingkungannya; dengan
cara meniru serta mencontoh figure
yang disanjung. Ia akan berusaha melaksanakan sesuatu yang disanjungi oleh
masyarakatnya. Sebaliknya, perbuatan yang dianggap keji oleh lingkungannya, ia
akan berusaha sedapat mugkin untuk menghindarinya. Manusia juga dipengaruhi
oleh idolanya. Idola tersebut sering menjadi rol model dalam kehidupan mereka.
Manusia yang berperan menjadi rol model tersebut antara lain ialah tokoh
politik, artis, seniman, atlit, orang tua, guru dan sebagainya.
Meskipun Rasulullah adalah qudwah yang paling ideal bagi umat Islam,
namun penghayatan nilai-nilai yang dibawa oleh Rasulullah hendaklah dipaparkan
oleh golongan para idola tersebut. Mereka sewajarnya senantiasa berusaha
menunjukkan contoh dan teladan yang terpuji agar dapat ditiru oleh generasi
muda. Penghayatan golongan idola tersebut terhadap nilai-nilai yang luhur dan
utama pasti akan mengukuhkan keyakinan generasi baru bahwa keutamaan dan
keluhuran memang sebenarnya boleh dilaksanakan. Ia bukan zaman dahulu kala atau
idealisme khayalan belaka; tetapi sesungguhnya Rasulullah adalah suatu realiti
yang tentunya harus dicontoh dan direalisasi oleh generasi masa kini.
Kita semua pasti tidak menginginkan
kenakalan remaja terjerumus kedalam lembah dekadensi moral dan kenakalan
remaja. Analisa realitas objektif menunjukkan bahwa tidak seluruhnya remaja
rusak. Dengan berpikiran positif tidak pula harus ditunggu setelah semua remaja
terpuruk kedalam lumpur amoral barulah upaya perbaikannya dilaksanakan dengan
intensif. Di harapkan generasi kedepan dapat digiring menjadi taat hukum
dimulai dari lembaga keluarga dan rumah tangga dengan memperkokoh peran orang
tua, ibu bapak ninik mamak dan unsur masyarakat secara efektif dalam menularkan
ilmu pengetahuan yang segar dengan tradisi luhur dan aqidah yang baik kepada
generasi pelanjut bertumpu kepada cita rasa patah tumbuh hilang berganti. Apabila sains dipisah dari aqidah syariah dan akhlaq akan
melahirkan saintis tak bermoral agama, konsekwensinya ilmu banyak dengan sedikit
kepedulian. ***
