Kampuang Nan Jauh Di Mato

Kampuang Nan Jauh Di Mato
Gunung Marapi dilihat dari kampung Sabu, Tanah Datar, SUMBAR, INDONESIA

Kamis, 22 Desember 2011

Ceria yang pernah di muat di surat kabar Padang Ekxpress


Ceria: Eka Susanti

Aku dan Anak Pejalan Subuh

Padang, Sabtu 20 Maret
Malam yang begitu dingin tapi dapat menyejukan ulu hati ku. Menelusuri urat-urat saraf dan menjalar ke setiap pembuluh di tubuhku. Dingin yang menantang mata yang begitu barat merasakan kantuk. Namun, ku coba melawan rasa kantuk ini demi sebuah catatan harian yang harus ku selesaikan malam ini juga. 
Di luar sana, bintang dan sang bulan telah siap menemaniku malam ini. Setiap kerlipan bintang adalah satu kata dan kalimat bagiku, ku ingin bintang berkelip sesering mungkin dan rembulan tetap menerangkan malam ini agar naskah ku dapat selesai. Setiap pancaran rembulan yang sejuk dan terasa samar telah mengubah naskahku menjadi beberapa paragraf. Kami saling berbagi, bintang seakan menceritakan keluh kesah apa yang ia lewati disaat menemani rembulan di malam hari. Bulan pun tak mau kalah dan menceritakan apa saja yang ia lihat dimuka bumi ini. Zat makhluk ciptaan Allah yang selalu memperlakukan apa yang diperintahkan dan ada juga melakukan apa yang dilarangnya. Semua bermacam dan beragam sesuai denga jenis dan macam yang terdapat dimuka bumi ini. Begitulah malam ini ku lewati sebuah naskah bersama bantuan bintang dan bulan yang selalu setia menemaniku.
Setelah naskah dapat ku selesaikan dua halaman, bintang mulai berhenti bekerlip, bulan pun kini bersembunyi dibalik awan. Kenapa jadi begini? Ia seolah menentang ku karena telah menulis ceritanya dan menjadikannya sebagai properti dalam naskahku. Padahal aku ingin sekali menyelesaikan naskahku malam ini juga, sayang sekali setiap kataku mulai hilang dengan kepergian bintang dilangit dan kalimat ku tak jadi di saat bulan disembunyikan awan hitam. Dingin malam ini tak lagi bersahabat dengan ku, ia mulai meniup pelan tapi tajam yang tak mampu ku lawan dan akhirnya ku terlelap diantara onggokan peserta dan calon kertas naskah ku. Ku ingin besok jika terbangun untuk melanjutkan naskah ku malam ini dan  kembali berganti cerita dengan bintang dan bulan.
Ketika kelas dimulai ternyata semua peserta telah mengmpulkan naskah, tinggal aku seorang. Dosen mulai mengabsen masing-masing kami, ternyata hanya aku yang belum mengumpulkan naskah. Oh tuhan, kenapa aku bisa ketiduran dan tak dapat menyelesaikan naskah ini. Aku menyesali kejadian semalam, harusnya aku tidak terlalu menggantungkan diri pada bintang dan bulan. Aku disuruh keluar untuk menyelesaikan naskahku. Betapa malunya seorang diri dipinta untuk keluar ruangan hanya karena naskah yang ditugaskan seminggu yang lalu tak mampu ku selesaikan dengan sempurna.
Tring,,,,tring,,,,tring,,,
Tepat jam 03.30 Jam weker menggugah otak ku dan mengusik sekalian yang ada dikamarku, seekor cicak yang gagal mendapatkan mangsanya didinding kamarku seakan mengupat jam weker yang telah memberikan kesialan padanya. Ternyata semalam aku bermipi. Syukurlah, aku sangat senang karena masih ada waktu untuk menyelesaikan, dari jendela kuintip bintang dan bulan telah kembali menampakkan diri dan siap untuk kembali berbagi cerita dan menamaniku malam ini.
Kebiasaan setiap bangun, ku harus ke kamar mandi untuk buang air kecil. Dari kecil aku dibiasakan bangun pagi dan selalu buang air, sehingga sampai sekarang kebiasaan itu tak luput dariku. Ku singkap selimut yang telah setia menutupi ku dalam malam-malam yang dingin dengan rasa malas, karena mata yang masih terasa berat. Sesaat ku termenung mengingat kembali mimpi semalam, ku tak ingin itu sampai terjadi, betapa malunya mengerjakan tugas diluar kelas, mahasiswa macam apa ku ini.
Dengan perasaan yang cemas dan ragu ke kemar mandi, ku beranikan juga diri karena dorongan perutku yang mulai sakit karena menahan air yang hendak keluar dari tubuhku untuk mengalir bebas dan kembali ke asalnya. Dengan pelan ku buka pintu kamar dan kembali ku tutup, karena aku tak ingin teman sebelah kamarku terbangun hanya karena hempasan pintu kamarku dan akan menggangu tidurya.
Dengan sedikit terhoyong-hoyong ku berjalan ke kamar mandi tapi sebelumnya kulihat disekitar kamarku, yang kebetulan aku tinggal di lantai dua. Di depan kamarku diberi pagar terali besi agar tidak ada orang yang bisa memanjat dan masuk ke kamar kami. Di depan kamarku dari atas ku hanya dapat melihat atap-atap rumah dan disebelahnya ada jalan serta jembatan irigasi. Di tepi-tepi jalan ditanami pohon pelindung, setidaknya untuk menyamarkan udara yang terpolusi oleh asap kendaraan. Dari kejauhan terlihat puncak bukit-bukit yang mebentang dan menjulang menyambung antara bukit yang satu dengan bukit yang lain. Semua terlihat sepi, hening dan senyap, tak satupun orang yang kulihat.  Hanya hembusan angin yang sekali-kali menyapa bulu yang bertengger di kulit lengan ku dan membuat bulu itu berdiri merasakan dinginnya malam ini.    
Byur...byur...
Tumpahan air membasahi anggota wudhuk ku, sebelum menyelesaikan naskah aku ingin terlebih dahulu berdiskusi dengan sang Khaliq yang telah menciptakan langit dan bumi serta seisi jagat raya ini. Karena aku hanya lah manusia yang tak luput dari dosa dan takut akan kekejaman api neraka.
Setelah selesai berwudhuk, aku kembali kekamar yang berjarak sekitar 15 kaki dari kamar mandi. Kebiasaan ku kembali melihat apa yang ada diluar sana dan ingin menikmati hijaunya puncak bukit yang membentang terlihat dari kejauhan kamarku. Saat melihat jalan, aku mulai merasa melihat suatu benda yang sedang berjalan, seorang anak kecil yang berumur sekitar 10 tahun sedang berjalan sendiri. Seorang anak kecil yang tengah berjalan seorang diri, ditengah keheningan malam, seakan tidak merasakan ketakutan sedikitpun. Ia terlihat berjalan dengan santai tanpa melirik kanan, kiri, ataupun kebelakang.
Otak ku mulai menganalisis, anak siapa yang sesubuh ini telah berjalan sendiri. Kalau dikatakan anak jalanan, tidak mungkin karena ia hanya seorang diri dan berpakaian lengkap. Pakaiannya bagus, tidak ada cacat sedikitpun. Ia seperti seorang anak yang disuruh ibunya untuk pergi ke kedai membeli belanjaan, karena aku melihat seolah dia tengah memainkan koin yang ada ditangannya dengan mengganti posisi pegangan dari tangan kiri ke kanan dan sebaliknya. Wajahnya tidak jelas oleh pancaran sinar lampu jalan, aku tidak melihat matanya, hidung, mulut dan pipinya dengan jelas, padahal jalan yang ia tempuh sangat jelas dari kamarku.
Aku mulai heran dan merasakan aku sedang bermimpi, berkali-kali ku coba mengusap mata dan mencabut bulu yang bertengger di tanganku. Aduh.......! Aku merasakan kesakitan. Ternyata aku tidak sedang bermimpi, ini benar-benar terjadi. Bulu kudukku mulai merinding, anak itu telah pergi dan aku langsung masuk kamar dan mengunci kamarku. Perasaan ku tidak enak, apa sebenarnya yang ku lihat barusan. Aku yakin itu bukan manusia biasa, karena tidak mungkin bagi seorang anak yang masih berumur 10 tahun berjalan sendiri ditengah kesunyian, tak ada orang.
Kulihat jam masih menjukkan pukul 03.50, dari jendela kuintip bulan dan bintang tak ada lagi, mereka pergi seiring kepergian anak kecil itu. Langit tak berawan, bersih seperti sehabis disapu, tapi kemana bulan dan bintang tadi? Tak mungkin awan menutupinya karena malam ini tak ada awan. Ketakutan ku bertambah, kutarik selimut dan kututup tubuhku tanpa ada sedikit yang terbuka. Aku kembali terlelap, tugas naskah tak jadi kulanjutkan dan shalat malam tak pula jadi ku lakukan. Kenapa aku ini? Hanya karena seorang anak pejalan subuh, bulan dan bintang yang menghilang, menggoyahkan iman ku. Semua niat yang telah teratur malam sebelum tidur ku untai jadi hilang dan lenyap seketika seiring udara dingin membuat mataku terlelap lagi.
Bulan dan bintang memancarkan cahayanya, menembus tirai jendelaku dan masuk menyinari lantai keramik kamarku dan memantul ke dindingnya. Mereka bercerita atas kepergiannya malam ini. Bulan dan bintang tak mau menemaniku menyelesaikan naskah ku karena mereka juga mempunyai kesibukan sendiri mengikuti anak kecil yang berjalan malam ini. Seorang anak yang ditinggal pergi orang tuanya, dan ia telah berjalan jauh mencari kedua orang tunya itu.

”Semalam aku bersembunyi dibalik awan, bukan berarti aku tidak mau membantumu menyelesaikan naskahmu. Karena malam itu aku juga ingin membantu anak kecil yang tengah diganggu oleh komplotan penjahat. Aku memberi kegelapan pada bumi dimalam ini agar anak itu dapat tersembunyi dari maksud jahat para perampok itu.”

 Bulan meyakinkan ku atas kejadian semalam, bintang juga memberi sedikit cerita padaku.
”Aku bekerlip bukan hanya membantumu membentuk kata, tapi aku juga menemani  anak kecil itu selama diperjalanan. Kami saling berbagi cerita dengannya, dia anak yang malang. Ditinggal orang tuanya saat gempa yang terjadi di kota ini, pada tanggal 30 September kemarin. Ia pun ikut menderita di dalamnya.”
”Semalam itu, kamu hanya melihat bayangannya. Itu bukan lah wujudnya  yang nyata tapi bayangan seorang anak yang tengah mencari orang tuanya.”
”Kami menghilang seiring kepergian anak itu karena tugas kami telah selesai mengikuti dan menemainya, kini ia telah bertemu dengan orang tuanya dan bergabung dengan orang-orang yang senasib dengan mereka di kala gempa kemarin.”
 
            Plak.....!
            Suara hempasan pintu dari kamar sebelah mengakhiri mimpiku subuh ini. Aku telah mendengar semua cerita dari bulan dan bintang. Dari jendela, kembali kuintip tak ada lagi bulan dan bintang.

            ”Selamat jalan bulan, bintang dan anak kecil yang ku temui subuh tadi. Semoga kamu bahagia bersama orang tuamu. Dan semoga arwah kalian diterima di sisiNya. Amin....!

            Setelah selesai shalat subuh, kembali ku lanjutkan naskah yang sempat terbengkalai semalam. Dan mimpiku bertemu dengan bulan dan bintang subuh ini telah membantu saraf dan otak ku menjalar menyelesaikan naskah ini.***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar