Ceria: Eka
Susanti
Aku dan
Anak Pejalan Subuh
Padang, Sabtu 20 Maret
Malam yang begitu dingin tapi
dapat menyejukan ulu hati ku. Menelusuri urat-urat saraf dan menjalar ke setiap
pembuluh di tubuhku. Dingin yang menantang mata yang begitu barat merasakan
kantuk. Namun, ku coba melawan rasa kantuk ini demi sebuah catatan harian yang
harus ku selesaikan malam ini juga.
Di luar sana, bintang dan sang
bulan telah siap menemaniku malam ini. Setiap kerlipan bintang adalah satu kata
dan kalimat bagiku, ku ingin bintang berkelip sesering mungkin dan rembulan
tetap menerangkan malam ini agar naskah ku dapat selesai. Setiap pancaran
rembulan yang sejuk dan terasa samar telah mengubah naskahku menjadi beberapa
paragraf. Kami saling berbagi, bintang seakan menceritakan keluh kesah apa yang
ia lewati disaat menemani rembulan di malam hari. Bulan pun tak mau kalah dan
menceritakan apa saja yang ia lihat dimuka bumi ini. Zat makhluk ciptaan Allah
yang selalu memperlakukan apa yang diperintahkan dan ada juga melakukan apa
yang dilarangnya. Semua bermacam dan beragam sesuai denga jenis dan macam yang
terdapat dimuka bumi ini. Begitulah malam ini ku lewati sebuah naskah bersama
bantuan bintang dan bulan yang selalu setia menemaniku.
Setelah naskah dapat ku
selesaikan dua halaman, bintang mulai berhenti bekerlip, bulan pun kini bersembunyi
dibalik awan. Kenapa jadi begini? Ia seolah menentang ku karena telah menulis
ceritanya dan menjadikannya sebagai properti dalam naskahku. Padahal aku ingin
sekali menyelesaikan naskahku malam ini juga, sayang sekali setiap kataku mulai
hilang dengan kepergian bintang dilangit dan kalimat ku tak jadi di saat bulan
disembunyikan awan hitam. Dingin malam ini tak lagi bersahabat dengan ku, ia
mulai meniup pelan tapi tajam yang tak mampu ku lawan dan akhirnya ku terlelap
diantara onggokan peserta dan calon kertas naskah ku. Ku ingin besok jika
terbangun untuk melanjutkan naskah ku malam ini dan kembali berganti cerita dengan bintang dan
bulan.
Ketika kelas dimulai ternyata
semua peserta telah mengmpulkan naskah, tinggal aku seorang. Dosen mulai
mengabsen masing-masing kami, ternyata hanya aku yang belum mengumpulkan
naskah. Oh tuhan, kenapa aku bisa ketiduran dan tak dapat menyelesaikan naskah
ini. Aku menyesali kejadian semalam, harusnya aku tidak terlalu menggantungkan
diri pada bintang dan bulan. Aku disuruh keluar untuk menyelesaikan naskahku.
Betapa malunya seorang diri dipinta untuk keluar ruangan hanya karena naskah
yang ditugaskan seminggu yang lalu tak mampu ku selesaikan dengan sempurna.
Tring,,,,tring,,,,tring,,,
Tepat jam 03.30 Jam weker
menggugah otak ku dan mengusik sekalian yang ada dikamarku, seekor cicak yang
gagal mendapatkan mangsanya didinding kamarku seakan mengupat jam weker yang
telah memberikan kesialan padanya. Ternyata semalam aku bermipi. Syukurlah, aku
sangat senang karena masih ada waktu untuk menyelesaikan, dari jendela kuintip
bintang dan bulan telah kembali menampakkan diri dan siap untuk kembali berbagi
cerita dan menamaniku malam ini.
Kebiasaan setiap bangun, ku
harus ke kamar mandi untuk buang air kecil. Dari kecil aku dibiasakan bangun
pagi dan selalu buang air, sehingga sampai sekarang kebiasaan itu tak luput
dariku. Ku singkap selimut yang telah setia menutupi ku dalam malam-malam yang
dingin dengan rasa malas, karena mata yang masih terasa berat. Sesaat ku
termenung mengingat kembali mimpi semalam, ku tak ingin itu sampai terjadi,
betapa malunya mengerjakan tugas diluar kelas, mahasiswa macam apa ku ini.
Dengan perasaan yang cemas dan
ragu ke kemar mandi, ku beranikan juga diri karena dorongan perutku yang mulai
sakit karena menahan air yang hendak keluar dari tubuhku untuk mengalir bebas
dan kembali ke asalnya. Dengan pelan ku buka pintu kamar dan kembali ku tutup,
karena aku tak ingin teman sebelah kamarku terbangun hanya karena hempasan
pintu kamarku dan akan menggangu tidurya.
Dengan sedikit terhoyong-hoyong
ku berjalan ke kamar mandi tapi sebelumnya kulihat disekitar kamarku, yang
kebetulan aku tinggal di lantai dua. Di depan kamarku diberi pagar terali besi
agar tidak ada orang yang bisa memanjat dan masuk ke kamar kami. Di depan
kamarku dari atas ku hanya dapat melihat atap-atap rumah dan disebelahnya ada jalan
serta jembatan irigasi. Di tepi-tepi jalan ditanami pohon pelindung, setidaknya
untuk menyamarkan udara yang terpolusi oleh asap kendaraan. Dari kejauhan
terlihat puncak bukit-bukit yang mebentang dan menjulang menyambung antara
bukit yang satu dengan bukit yang lain. Semua terlihat sepi, hening dan senyap,
tak satupun orang yang kulihat. Hanya
hembusan angin yang sekali-kali menyapa bulu yang bertengger di kulit lengan ku
dan membuat bulu itu berdiri merasakan dinginnya malam ini.
Byur...byur...
Tumpahan air membasahi anggota
wudhuk ku, sebelum menyelesaikan naskah aku ingin terlebih dahulu berdiskusi
dengan sang Khaliq yang telah menciptakan langit dan bumi serta seisi jagat
raya ini. Karena aku hanya lah manusia yang tak luput dari dosa dan takut akan
kekejaman api neraka.
Setelah selesai berwudhuk, aku
kembali kekamar yang berjarak sekitar 15 kaki dari kamar mandi. Kebiasaan ku
kembali melihat apa yang ada diluar sana dan ingin menikmati hijaunya puncak
bukit yang membentang terlihat dari kejauhan kamarku. Saat melihat jalan, aku
mulai merasa melihat suatu benda yang sedang berjalan, seorang anak kecil yang
berumur sekitar 10 tahun sedang berjalan sendiri. Seorang anak kecil yang
tengah berjalan seorang diri, ditengah keheningan malam, seakan tidak merasakan
ketakutan sedikitpun. Ia terlihat berjalan dengan santai tanpa melirik kanan,
kiri, ataupun kebelakang.
Otak ku mulai menganalisis,
anak siapa yang sesubuh ini telah berjalan sendiri. Kalau dikatakan anak
jalanan, tidak mungkin karena ia hanya seorang diri dan berpakaian lengkap.
Pakaiannya bagus, tidak ada cacat sedikitpun. Ia seperti seorang anak yang
disuruh ibunya untuk pergi ke kedai membeli belanjaan, karena aku melihat
seolah dia tengah memainkan koin yang ada ditangannya dengan mengganti posisi
pegangan dari tangan kiri ke kanan dan sebaliknya. Wajahnya tidak jelas oleh
pancaran sinar lampu jalan, aku tidak melihat matanya, hidung, mulut dan
pipinya dengan jelas, padahal jalan yang ia tempuh sangat jelas dari kamarku.
Aku mulai heran dan merasakan
aku sedang bermimpi, berkali-kali ku coba mengusap mata dan mencabut bulu yang
bertengger di tanganku. Aduh.......! Aku merasakan kesakitan.
Ternyata aku tidak sedang bermimpi, ini benar-benar terjadi. Bulu kudukku mulai
merinding, anak itu telah pergi dan aku langsung masuk kamar dan mengunci
kamarku. Perasaan ku tidak enak, apa sebenarnya yang ku lihat barusan. Aku
yakin itu bukan manusia biasa, karena tidak mungkin bagi seorang anak yang
masih berumur 10 tahun berjalan sendiri ditengah kesunyian, tak ada orang.
Kulihat jam masih menjukkan
pukul 03.50, dari jendela kuintip bulan dan bintang tak ada lagi, mereka pergi
seiring kepergian anak kecil itu. Langit tak berawan, bersih seperti sehabis
disapu, tapi kemana bulan dan bintang tadi? Tak mungkin awan menutupinya karena
malam ini tak ada awan. Ketakutan ku bertambah, kutarik selimut dan kututup
tubuhku tanpa ada sedikit yang terbuka. Aku kembali terlelap, tugas naskah tak
jadi kulanjutkan dan shalat malam tak pula jadi ku lakukan. Kenapa aku ini?
Hanya karena seorang anak pejalan subuh, bulan dan bintang yang menghilang,
menggoyahkan iman ku. Semua niat yang telah teratur malam sebelum tidur ku
untai jadi hilang dan lenyap seketika seiring udara dingin membuat mataku
terlelap lagi.
Bulan dan bintang memancarkan
cahayanya, menembus tirai jendelaku dan masuk menyinari lantai keramik kamarku
dan memantul ke dindingnya. Mereka bercerita atas kepergiannya malam ini. Bulan
dan bintang tak mau menemaniku menyelesaikan naskah ku karena mereka juga
mempunyai kesibukan sendiri mengikuti anak kecil yang berjalan malam ini. Seorang
anak yang ditinggal pergi orang tuanya, dan ia telah berjalan jauh mencari
kedua orang tunya itu.
”Semalam aku bersembunyi dibalik awan,
bukan berarti aku tidak mau membantumu menyelesaikan naskahmu. Karena malam itu
aku juga ingin membantu anak kecil yang tengah diganggu oleh komplotan
penjahat. Aku memberi kegelapan pada bumi dimalam ini agar anak itu dapat
tersembunyi dari maksud jahat para perampok itu.”
Bulan meyakinkan ku atas kejadian semalam,
bintang juga memberi sedikit cerita padaku.
”Aku bekerlip bukan hanya membantumu
membentuk kata, tapi aku juga menemani
anak kecil itu selama diperjalanan. Kami saling berbagi cerita
dengannya, dia anak yang malang. Ditinggal orang tuanya saat gempa yang terjadi
di kota ini, pada tanggal 30 September kemarin. Ia pun ikut menderita di
dalamnya.”
”Semalam itu, kamu hanya melihat
bayangannya. Itu bukan lah wujudnya yang
nyata tapi bayangan seorang anak yang tengah mencari orang tuanya.”
”Kami menghilang seiring kepergian anak
itu karena tugas kami telah selesai mengikuti dan menemainya, kini ia telah
bertemu dengan orang tuanya dan bergabung dengan orang-orang yang senasib
dengan mereka di kala gempa kemarin.”
Plak.....!
Suara
hempasan pintu dari kamar sebelah mengakhiri mimpiku subuh ini. Aku telah
mendengar semua cerita dari bulan dan bintang. Dari jendela, kembali kuintip
tak ada lagi bulan dan bintang.
”Selamat jalan bulan, bintang dan anak kecil yang ku
temui subuh tadi. Semoga kamu bahagia bersama orang tuamu. Dan semoga arwah
kalian diterima di sisiNya. Amin....!
Setelah
selesai shalat subuh, kembali ku lanjutkan naskah yang sempat terbengkalai
semalam. Dan mimpiku bertemu dengan bulan dan bintang subuh ini telah membantu
saraf dan otak ku menjalar menyelesaikan naskah ini.***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar